Translate

Jumat, 06 Januari 2012

AGAMA BUDHA


BAB I
PENDAHULUAN

Kajian mengenai disiplin ilmu tentang perbandingan agama sangat menarik untuk di perbincangkan dan didiskusikan karena disiplin ilmu ini membahas berbagai macam agama-agama yang pernah ada di bumi ini baik itu agama bumi atau agama langit. Masing-masing agama tersebut memiliki ajaran dan prinsip yang berbeda-beda yang sangat penting untuk kita ketahui agar kita sebagai umat muslim paham atas penyimpangan-penyimpangan tentang ajaran agama-agama tersebut.
Dalam pembahasan kali ini penulis hendak mengangkat tentang seluk beluk ajaran dari agama Budha, mulai dari tokoh pendiri, prinsip ajaran, kitab suci, konsep ketuhanan dan konsep masyarakatnya.
Semoga dengan pembahasan ini kita dapat mengenal lebih dekat lagi tentang bagaimana ajaran agama Budha dan juga sebagai khazanah keilmuan bagi kita semua.


BAB II
PEMBAHASAN
A.       Latar belakang dan tokoh pendiri agama Budha
Kitab Buddhavamsa menceritakan mengenai pra kelahiran Gautama yaitu pada kelahiran yang pertama, siddharta Gautama bernama Sumedha. Dia mendapat inspirasi dari Budha dipamkara untuk mencapai kebudhaan. Sebenarnya ia tinggal di sorga Tushita, karena karmanya yang baik. Dari Gita sorga nyata bahwa sudah saatnya dia turun ke dunia untuk melepaskan umat manusia. Ia melayangkan keempat pandangannya untuk melihat waktu, bagian dunia, negara dan keluarga tempatnya ia dilahirkan.
Budha telah memutuskan untuk lahir di rumah Shuddhodana dari istrinya Ratu Maya. Budha lahir dan dibesarkan ditengah-tengah lingkungan masyarakat Hindu. Dengan latar belakang ini, dia memperbarui Hindu dan akhirnya mengajarkan sesuatu yang agak berbeda dari ajaran Hindu. Budha Gautama mengambil pengikutnya mula-mula dari segala lapisan masyarakat. Siswa-siswanya yang pertama dari golongan rahib yang diinsafkan, kemudian dari golongan ksatria, saudagar-saudagar, dan orang-orang perempuan kaya dari kaum atas. Dalam mengangkat anggota baru ia juga tidak membeda-bedakan pangkat dan kedudukan.
Setelah menjalani perjalanan dan pertapaannya bersama para pengikut-pengikutnya akhirnya Budha Gautama menjalani taraf ketidaksadarannya, lalu wafatlah ia. Terjadilah gempa bumi dan guruh menggelegar. Siddharta Gautama wafat pada tahun 408 SM. Tahun tersebut dijadikan sebagai tahun permulaan penanngalan Budha. Taman di dekat kusinara, tempat Budha wafat, menjadi tempat ziarah bagi umat Budha hingga saat ini.





Budha Gautama pernah berujar : “ajarannya akan dapat bertahan selama kurang lebih lima kali 5000 tahun, setelah sang Tathagatha (sang Budha) parinibbana. Setelah itu ajarannya akan diselewengkan, sehingga mungkin masih ada yang menggunakan nama Budha, tetapi ajarannya akan jauh berbeda dengan ajarannya yang asli. Oleh karenanya akan datang kembali seorang Budha lain yang akan dikenal sebagai Buddha Mettaya (Maitreya)[1]

B.        Prinsip ajaran Budha
Ajaran budha tersimpul dalam kesaksian keimanan yang disebut dengan Triratna (tiga rangkaian ratna mutu manikam). Kesaksian ini berbentuk credo (syahadat) yang berbunyi sebagai berikut:
a.       Buddham saranam gacchami: saya mencari perlindungan kepada sang Budha
b.      Dharman saranam gacchami: saya mencari perlindungan kepada Dharma (hokum-hukum agama)
c.       Sangham saranam gacchami: saya mencari perlindungan kepada Sangha (orde pendeta).
Pengakuan kepada dharma berarti mempercayai kebenaran hokum-hukumnya dengan kewajiban menjalankan dasar-dasar ajaran kelepasan hidup serta peraturan-peraturan lainnya. Dasar-dasar ajaran kelepasan tersebut adalah yang disebut Arya-satyami (Arya: utama, Satyami: kebenaran yang terdiri dari empat kenyataan hidup sebagai beikut: )
a.       Bahwa dalam kehidupan dunia ini penuh dengan hal-hal yang menyedihkan dan kesengsaraan, maka disimpulkan bahwa hidup itu menderita.
b.      Bahwa manusia berada oleh karena mempunyai nafsu keinginan untuk berada (hidup). Keadaan hidupnya itu adalah penderitaan karena terikat oleh samsara (menjelma berkali-kali).
c.       Jika tidak punya lagi nafsu keinginan, maka penderitaan samsara dapat dihilangkan yaitu dengan memadamkan nafsu keinginan tersebut (tresna).
d.      Cara menghilangkan nafsu keinginan tersebut adalah dengan melakukan delapan jalan kebenaran (disebut dengan Astavidha) yang terdiri dari:
1.      Mengikuti pelajaran yang benar.
2.      Melaksanakan niat (keinginan) yang baik.
3.      Mengucapkan perkataan yang baik dan tepat
4.      Menjalankan usaha yang baik (halal).
5.      Melakukan pekerjaan yang baik.
6.      Memusatkan perhatian dengan baik.
7.      Mencari nafkah dengan baik.
8.      Melakukan tafakur dengan baik.
Dengan dasar Aryasatyami tersebut dapat diketahui bahwa agama Budha mendidik pengikut-pengikutnya untuk berhati-hati serta bersungguh-sungguh dalam menjalankan suatu kewajiban atau pekerjaan mengingat bahwa dunia sekitar manusia ini dianggap penuh dengan hal-hal yang dapat mencelakakan karena adanya tiga analisir keduniawian, yaitu:
1.      Adanya kama, yakni nafsu cinta
2.      Adanya dwesa, yakni rasa benci kepada orang lain
3.      Adanya moha, yakni mabuk (dalam segala bentuknya)
Untuk menegakkan Dharma, maka pengikut-pengikut Budha pada umumnya wajib memenuhi larangan dalam hal sebagai berikut :
a.       Dilarang melakukan pembunuhan terhadap semua makhluk
b.      Dilarang melakukan pencurian/perampokan/penyerobotan dan sebagainya.
c.       Dilarang melakukan perbuatan cabul, misalnya perzinahan.
d.      Dilarang berbuat dusta/ menipu orang lain.
e.       Dilarang meminum-minuman yang memabukkan (minuman keras)[2]

C.        Kitab suci Budha dan konsep masyarakat menurut Budha
Kitab suci agama Buddha yang paling tua yang diketahui hingga sekarang tertulis dalam bahasa Pâli dan Sansekerta; terbagi dalam tiga kelompok besar yang dikenal sebagai 'pitaka' atau 'keranjang', yaitu :
Oleh karena itu Kitab Suci agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pâli) atau Tripitaka (sansekerta).
Di antara kedua versi Pâli dan Sansekerta itu, pada dewasa ini hanya Kitab Suci Tipitaka (Pâli) yang masih terpelihara secara lengkap, dan Tipitaka (Pâli) ini pulalah yang merupakan kitab suci bagi agama Buddha mazhab Theravâda (Pâli Canon).
1.      Vinaya pitaka
Vinaya Pitaka berisi hal-hal yang berkenaan dengan peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni; terdiri atas tiga bagian :
1. Sutta Vibhanga
2. Khandhaka, dan
3. Parivâra.
Kitab Sutta Vibhanga berisi peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni. Bhikkhu-vibanga berisi 227 peraturan yang mencakup delapan jenis pelanggaran, di antaranya terdapat empat pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya seorang bhikkhu dari Sangha dan tidak dapat menjadi bhikkhu lagi seumur hidup. Keempat pelanggaran itu adalah: berhubungan kelamin, mencuri, membunuh atau menganjurkan orang lain bunuh diri, dan membanggakan diri secara tidak benar tentang tingkat-tingkat kesucian atau kekuatan-kekuatan batin luar biasa yang dicapai. untuk ketujuh jenis pelanggaran yang lain ditetapkan hukuman dan pembersihan yang sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang bersangkutan. Bhikkhuni-vibanga berisi peraturan-peraturan yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya lebih banyak.
Kitab Khandhaka terbagi atas Mahâvagga dan Cullavagga. Kitab Mahâvagga berisi peraturan-peraturan dan uraian tentang upacara penahbisan bhikkhu, upacara Uposatha pada saat bulan purnama dan bulan baru di mana dibacakan Pâtimokkha (peraturan disiplin bagi para bhikkhu), peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan (vassa), upacara pada akhir vassa (pavâranâ), peraturan-peraturan mengenai jubah Kathina setiap tahun, peraturan-peraturan bagi bhikkhu yang sakit, peraturan tentang tidur, tentang bahan jubah, tata cara melaksanakan sanghakamma (upacara sangha), dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan.
Kitab Cullavagga berisi peraturan-peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran, tata cara penerimaan kembali seorang bhikkhu ke dalam Sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya, tata cara untuk menangani masalah-masalah yang timbul, berbagai peraturan yang mengatur cara mandi, mengenakan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam dan sebagainya, mengenai perpecahan kelompok-kelompok bhikkhu, kewajiban-kewajiban guru (âcariyâ) dan calon bhikkhu (sâmanera), pengucilan dari upacara pembacaan Pâtimokkha, penahbisan dan bimbingan bagi bhikkhuni, kisah mengenai Pesamuan Agung Pertama di Râjagaha, dan kisah mengenai Pesamuan Agung Kedua di Vesali. Kitab Parivâra memuat ringkasan dan pengelompokan peraturan-peraturan Vinaya, yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.

2.      Sutta pitaka
           Sutta Pitaka terdiri atas lima 'kumpulan' (nikâya) atau buku, yaitu :     
1.Dîgha  Nikâya,
               Merupakan buku pertama dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 34 Sutta panjang, dan terbagi menjadi tiga vagga : Sîlakkhandhavagga, Mahâvagga dan Pâtikavagga. Beberapa di antara sutta-sutta yang terkenal ialah : Brahmajâla Sutta (yang memuat 62 macam pandangan salah), Samannaphala Sutta (menguraikan buah kehidupan seorang petapa), Sigâlovâda Sutta (memuat patokan-patokan yang penting bagi kehidupan sehari-sehari umat berumah tangga), Mahâsatipatthâna Sutta (memuat secara lengkap tuntunan untuk meditasi Pandangan Terang, Vipassanâ), Mahâparinibbâna Sutta (kisah mengenai hari-hari terakhir Sang Buddha Gotama).

2.Majjhima      Nikâya,
         Merupakan buku kedua dari Sutta Pitaka yang memuat kotbah-kotbah menengah. Buku ini terdiri atas tiga bagian (pannâsa); dua pannâsa pertama terdiri atas 50 sutta dan pannâsa terakhir terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah 152 sutta. Beberapa sutta di antaranya ialah : Ratthapâla Sutta, Vâsettha Sutta, Angulimâla Sutta, Ânâpânasati Sutta, Kâyagatasati Sutta dan sebagainya.

3. Anguttara Nikâya,
     Merupakan buku ketiga dari Sutta Pitaka, yang terbagi atas sebelas nipâta (bagian) dan meliputi 9.557 sutta. Sutta-sutta disusun menurut urutan bernomor, untuk memudahkan pengingatan.

4. Samyutta Nikâya, merupakan buku keempat dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 7.762 sutta. Buku ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta.

5. Khuddaka Nikâya, merupakan buku kelima dari Sutta Pitaka yang terdiri atas kumpulan lima belas kitab, yaitu :

a. Khuddakapâtha, berisi empat teks : Saranattâya, Dasasikkhapâda, Dvattimsakâra, Kumârapañha, dan lima sutta : Mangala, Ratana, Tirokudda, Nidhikanda dan Metta Sutta.

b. Dhammapada, terdiri atas 423 syair yang dibagi menjadi dua puluh enam vagga. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam    bahasa Indonesia.

c. Udâna, merupakan kumpulan delapan puluh sutta, yang terbagi menjadi delapan vagga. Kitab ini memuat ucapan-ucapan Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai kesempatan.

d. Itivuttaka, berisi 110 sutta, yang masing-masing dimulai dengan kata-kata : vuttam hetam bhagavâ (demikianlah sabda Sang         Bhagavâ).

e. Sutta Nipâta, terdiri atas lima vagga : Uraga, Cûla, Mahâ, Atthaka dan Pârâyana Vagga. Empat vagga pertama terdiri atas 54 prosa berirama, sedang vagga kelima terdiri atas enam belas sutta.


f. Vimânavatthu, menerangkan keagungan dari bermacam-macam alam deva, yang diperoleh melalui perbuatan-perbuatan      berjasa.

g. Petavatthu, merupakan kumpulan cerita mengenai orang-orang yang lahir di alam Peta akibat dari perbuatan-perbuatan tidak  baik.

h. Theragâthâ, kumpulan syair-syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang Buddha. Beberapa syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian yang diucapkan oleh para Thera atas Pembebasan yang telah dicapai.

i. Therigâthâ, buku yang serupa dengan Theragâthâ yang merupakan kumpulan dari ucapan para Theri semasa hidup Sang           Buddha.

j. Jâtaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu.

k. Niddesa, terbagi menjadi dua buku : Culla-Niddesa dan Mahâ-Niddesa. Culla-Niddesa berisi komentar atas Khaggavisâna Sutta yang terdapat dalam Pârâyana Vagga dari Sutta Nipâta; sedang Mahâ-Niddesa menguraikan enam belas sutta yang terdapat dalam Atthaka Vagga dari Sutta Nipâta.

l. Patisambhidâmagga, berisi uraian skolastik tentang jalan untuk mencapai pengetahuan suci. Buku ini terdiri atas tiga vagga : Mahâvagga, Yuganaddhavagga dan Paññâvagga, tiap-tiap vagga berisi sepuluh topik (kathâ).

m. Apadâna, berisi riwayat hidup dari 547 bhikkhu, dan riwayat hidup dari 40 bhikkhuni, yang semuanya hidup pada masa       Sang    Buddha.

n. Buddhavamsa, terdiri atas syair-syair yang menceritakan kehidupan dari dua puluh lima Buddha, dan Buddha Gotama adalah   yang    paling  akhir.

o. Cariyâpitaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu dalam bentuk syair, terutama menerangkan tentang 10 pâramî yang dijalankan oleh Beliau sebelum mencapai Penerangan Sempurna, dan tiap-tiap cerita disebut Cariyâ.
3.      Abhidhamma pitaka
Kitab Abhidhamma Pitaka berisi uraian filsafat Buddha Dhamma yang disusun secara analitis dan mencakup berbagai bidang, seperti : ilmu jiwa, logika, etika dan metafisika. Kitab ini terdiri atas tujuh buah buku (pakarana),      yaitu:

1. Dhammasangani, terutama menguraikan etika dilihat dari sudut pandangan              ilmu     jiwa.

2. Vibhanga, menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini terbagi menjadi delapan bab (vibhanga), dan masing-masing bab mempunyai tiga bagian : Suttantabhâjaniya, Abhidhannabhâjaniya dan Pññâpucchaka atau daftar pertanyaan-pertanyaan.

3. Dhâtukatha, terutama membicarakan mengenai unsur-unsur batin. Buku ini terbagi menjadi empat belas bagian.

4. Puggalapaññatti, menguraikan mengenai jenis-jenis watak manusia (puggala), yang dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu sampai dengan sepuluh, sepserti sistim dalan Kitab Anguttara  Nikâya.

5. Kathâvatthu, terdiri atas dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan-percakapan (kathâ) dan sanggahan terhadap pandangan-pandangan salah yang dikemukakan oleh berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika.

6. Yamaka, terbagi menjadi sepuluh bab (yang disebut Yamaka) : Mûla, Khandha, Âyatana, Dhâtu, Sacca, Sankhârâ, Anusaya, Citta, Dhamma          dan      Indriya.

7. Patthana, menerangkan mengenai "sebab-sebab" yang berkenaan dengan dua puluh empat Paccaya (hubungan-hubungan antara batin dan jasmani).
Gaya bahasa dalam Kitab Abhidhamma Pitaka bersifat sangat teknis dan analitis, berbeda dengan gaya bahasa dalam Kitab Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka yang bersifat naratif, sederhana dan mudah dimengerti oleh umum.
Pada dewasa ini bagian dari Tipitaka yang telah diterjemahkan dan dibukukan ke dalam bahasa Indonesia baru Kitab Dhammapada dan beberapa Sutta dari Dîgha Nikâya.[3]

D.    Konsep ketuhanan agama Budha
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.

“Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.”
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.






BAB III
PENUTUP
Kitab Buddhavamsa menceritakan mengenai pra kelahiran Gautama yaitu pada kelahiran yang pertama, siddharta Gautama bernama Sumedha. Dia mendapat inspirasi dari Budha dipamkara untuk mencapai kebudhaan. Sebenarnya ia tinggal di sorga Tushita, karena karmanya yang baik. Dari Gita sorga nyata bahwa sudah saatnya dia turun ke dunia untuk melepaskan umat manusia.
Ajaran budha tersimpul dalam kesaksian keimanan yang disebut dengan Triratna (tiga rangkaian ratna mutu manikam). Kesaksian ini berbentuk credo (syahadat) yang berbunyi sebagai berikut:
a.       Buddham saranam gacchami: saya mencari perlindungan kepada sang Budha
b.      Dharman saranam gacchami: saya mencari perlindungan kepada Dharma (hokum-hukum agama)
c.       Sangham saranam gacchami: saya mencari perlindungan kepada Sangha (orde pendeta).
Kitab suci agama Buddha yang paling tua yang diketahui hingga sekarang tertulis dalam bahasa Pâli dan Sansekerta; terbagi dalam tiga kelompok besar yang dikenal sebagai 'pitaka' atau 'keranjang', yaitu :
konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.



[1] Toni tedjo, mengenal agama Hindu, Budha, Khonghucu, Bandung: pionir jaya, h. 55-62
[2] HM. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, Jakarta: Golden Trayon Press, h. 96-98

[3] http://mitta.tripod.com/kitab.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar